RAANYAMAN : 28 Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Raih Penghargaan Pangeran Philip

28 Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Raih Penghargaan Pangeran Philip
SUMBER : SI Online.


Foto: 28 Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Raih Penghargaan Pangeran Philip

Sejumlah 27 siswa-siwi  dan seorang yang kini telah menjadi alumni  SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), menerima penghargaan dari semacam Yayasan (Foundation) The International Award for Young People (IAYP) atau Adinugraha Indonesia The Duke of Edinburgh’s (Pangeran) Philip, London, Inggris.

Adalah Mustika Diah, siswi klas 2 ( klas 11) salah satu dari 28 siswa Smamda Surabaya peraih award itu. Dari tiga kategori penghargaan (Emas, Perak dan Perunggu), Mustika Diah mendapatkan penghargaan dengan kategori perak.

Sedang penghargaan ketegori emas diraih seorang siswa alumni---yang lulus tahun 2013 lalu. Dan 26 siswa lainnya memperoleh penghargaan kategori perunggu diantaranya; Kholifatul Khasanah, M. Khoirul Khafidz, Siti Agustin Maghfiroh serta M. Hamsyah.

Untuk meraih penghargaan ini, siswa peserta program, dalam kurun waktu tertentu harus melakukan serentetan kegiatan rekreasi fisik (kegiatan olah-raga yang terukur) dan seni, skill, layanan sosial dan adventures.

Mustika Diah menggambarkan untuk skill; ia menyertakan bukti kegiatan lomba presenter yang pernah diikuti dan berhasil mencapai final. Untuk kegiatan layanan sosial, dimasukkan kepesertaannya secara aktif di-organisasi Remaja sebuah Masjid. Kegiatan fisik dan seni, dimasukkan bukti ia pernah meraih juara pada Kejaraan Nasional (Kejurnas) Tapak Suci memperebutkan Piala Univ. Airlangga tahun 2013. Tapak Suci merangkum aktifitas olah raga dan seni bela diri (pencak silat).

Siswa/i peraih piagam penghargaan ini meyakini, kelak setelah lulus dari SMA, dapat memudahkan untuk mendapatkan perguruan tinggi pilihannya; memudahkan pula untuk memperoleh bea-siswa. Beberapa alumni Smamda yang pernah meraih penghargaan ini, tidak saja mendapat kemudahan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan di perguruan tinggi, melainkan juga merasa memperoleh kemudahan ketika harus bersaing dalam memperoleh pekerjaan.

Mas’ad Fachir, Kepala Sekolah Smamda Surabaya menyatakan sangat mendukung kegiatan siswa dengan muara untuk memperoleh penghargaan ini. Diungkapkan pula, di sekolah-nya terdapat 42 jenis kegiatan ekstra-kurikuler yang dapat dimanfaatkan siswa untuk mendukung upaya untuk memperoleh penghargaan ini, atau setidaknya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri. “Dengan penghargaan yang diperoleh, diyakini dapat bernilai dan dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri di kalangan siswa peraihya,” katanya.

Seperti dikutip Harian Surya, Mas’ad Fachir menambahkan, Smamda mengikutkan siswa/i-nya dalam program IAYP sejak program itu ada di Indonesia di tahun 1999. Para siswa yang pernah meraih penghargaan, juga berprestasi di berbagai ajang internasional yang tidak saja mewakili sekolah-nya, tetapi juga mewakili Indonesia; diantaranya Award Leader Forum (ALF) yang digelar di Seul-Korea maupun di Kuala Lumpur Malaysia.

Berbarengan penyerahan piagam penghargaan, Mayong Suryo Laksono mengungkap, dengan penghargaan ini menjadi bukti adanya prestasi, walaupun sama sekali tidak ada yang dilombakan. Peserta program ini, telah memberikan bukti memiliki prestasi kecakapan pribadi di bidang olah raga, seni serta yang lainnya. Peserta program tergabung dalam suatu kelompok. Setiap kelompok terdapat mentor pendamping yang memberikan penilaian dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Setiap siswa peserta memiliki buku penilaian, tak ubahnya seperti buku rapor dalam jenjang pendidikan.

Setelah para siswa memperoleh penghargaan ini, menurut Mayong Suryo Laksono, secara langsung menjadi bagian dari ‘masyarakat’ global di bawah naungan yayasan. Yang telah berjalan selama ini, ada pertemuan para peraih penghargaan ditingkat regional bahkan kemudian di tingkat internasional. Dalam waktu dekat ini, pertemuan itu diselenggarakan di salah satu kota di Korea. Saat terselenggara pertemuan di tingkat regional demikian, akan membentuk jejaring yang memudahkan memperoleh akses informasi terkait program beasiswa, maupun berbagai program yang lain.

Program pemberian penghargaan ini di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak 15 tahun silam. Namun perkembangannya sangat lamban, bahkan di tahun 2005 sempat sama sekali terhenti. Kini, di tanah air terdapat 2.500 peserta penerima penghargaan. Selain Smamda Surabaya, sekolah menengah lain yang terdaftar ikut dalam program ini diantaranya; Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta; SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Jawa Timur; Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah;  SMA Ciputra Surabaya, Jawa Timur dan Surabaya Europe School. Kemudian ada Universitas Petroleum 45 Yogyakarta, adalah salah satu peserta di tingkat Perguruan Tinggi.

Program yang diikuti jutaan anak muda dari puluhan negara ini, dibagi dalam empat zona; yaitu Zona Asia Pasifik, Zona Europa-Mediterania-Arab State (Emas), Zona Afrika dan Zona Amerika.

SI Online.

Sejumlah 27 siswa-siwi dan seorang yang kini telah menjadi alumni SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), menerima penghargaan dari semacam Yayasan (Foundation) The International Award for Young People (IAYP) atau Adinugraha Indonesia The Duke of Edinburgh’s (Pangeran) Philip, London, Inggris.

Adalah Mustika Diah, siswi klas 2 ( klas 11) salah satu dari 28 siswa Smamda Surabaya peraih award itu. Dari tiga kategori penghargaan (Emas, Perak dan Perunggu), Mustika Diah mendapatkan penghargaan dengan kategori perak.

Sedang penghargaan ketegori emas diraih seorang siswa alumni---yang lulus tahun 2013 lalu. Dan 26 siswa lainnya memperoleh penghargaan kategori perunggu diantaranya; Kholifatul Khasanah, M. Khoirul Khafidz, Siti Agustin Maghfiroh serta M. Hamsyah.

Untuk meraih penghargaan ini, siswa peserta program, dalam kurun waktu tertentu harus melakukan serentetan kegiatan rekreasi fisik (kegiatan olah-raga yang terukur) dan seni, skill, layanan sosial dan adventures.

Mustika Diah menggambarkan untuk skill; ia menyertakan bukti kegiatan lomba presenter yang pernah diikuti dan berhasil mencapai final. Untuk kegiatan layanan sosial, dimasukkan kepesertaannya secara aktif di-organisasi Remaja sebuah Masjid. Kegiatan fisik dan seni, dimasukkan bukti ia pernah meraih juara pada Kejaraan Nasional (Kejurnas) Tapak Suci memperebutkan Piala Univ. Airlangga tahun 2013. Tapak Suci merangkum aktifitas olah raga dan seni bela diri (pencak silat).

Siswa/i peraih piagam penghargaan ini meyakini, kelak setelah lulus dari SMA, dapat memudahkan untuk mendapatkan perguruan tinggi pilihannya; memudahkan pula untuk memperoleh bea-siswa. Beberapa alumni Smamda yang pernah meraih penghargaan ini, tidak saja mendapat kemudahan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan di perguruan tinggi, melainkan juga merasa memperoleh kemudahan ketika harus bersaing dalam memperoleh pekerjaan.

Mas’ad Fachir, Kepala Sekolah Smamda Surabaya menyatakan sangat mendukung kegiatan siswa dengan muara untuk memperoleh penghargaan ini. Diungkapkan pula, di sekolah-nya terdapat 42 jenis kegiatan ekstra-kurikuler yang dapat dimanfaatkan siswa untuk mendukung upaya untuk memperoleh penghargaan ini, atau setidaknya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri. “Dengan penghargaan yang diperoleh, diyakini dapat bernilai dan dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri di kalangan siswa peraihya,” katanya.

Seperti dikutip Harian Surya, Mas’ad Fachir menambahkan, Smamda mengikutkan siswa/i-nya dalam program IAYP sejak program itu ada di Indonesia di tahun 1999. Para siswa yang pernah meraih penghargaan, juga berprestasi di berbagai ajang internasional yang tidak saja mewakili sekolah-nya, tetapi juga mewakili Indonesia; diantaranya Award Leader Forum (ALF) yang digelar di Seul-Korea maupun di Kuala Lumpur Malaysia.

Berbarengan penyerahan piagam penghargaan, Mayong Suryo Laksono mengungkap, dengan penghargaan ini menjadi bukti adanya prestasi, walaupun sama sekali tidak ada yang dilombakan. Peserta program ini, telah memberikan bukti memiliki prestasi kecakapan pribadi di bidang olah raga, seni serta yang lainnya. Peserta program tergabung dalam suatu kelompok. Setiap kelompok terdapat mentor pendamping yang memberikan penilaian dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Setiap siswa peserta memiliki buku penilaian, tak ubahnya seperti buku rapor dalam jenjang pendidikan.

Setelah para siswa memperoleh penghargaan ini, menurut Mayong Suryo Laksono, secara langsung menjadi bagian dari ‘masyarakat’ global di bawah naungan yayasan. Yang telah berjalan selama ini, ada pertemuan para peraih penghargaan ditingkat regional bahkan kemudian di tingkat internasional. Dalam waktu dekat ini, pertemuan itu diselenggarakan di salah satu kota di Korea. Saat terselenggara pertemuan di tingkat regional demikian, akan membentuk jejaring yang memudahkan memperoleh akses informasi terkait program beasiswa, maupun berbagai program yang lain.

Program pemberian penghargaan ini di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak 15 tahun silam. Namun perkembangannya sangat lamban, bahkan di tahun 2005 sempat sama sekali terhenti. Kini, di tanah air terdapat 2.500 peserta penerima penghargaan. Selain Smamda Surabaya, sekolah menengah lain yang terdaftar ikut dalam program ini diantaranya; Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta; SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Jawa Timur; Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah; SMA Ciputra Surabaya, Jawa Timur dan Surabaya Europe School. Kemudian ada Universitas Petroleum 45 Yogyakarta, adalah salah satu peserta di tingkat Perguruan Tinggi.

Program yang diikuti jutaan anak muda dari puluhan negara ini, dibagi dalam empat zona; yaitu Zona Asia Pasifik, Zona Europa-Mediterania-Arab State (Emas), Zona Afrika dan Zona Amerika.