RAANYAMAN : Wartawan Mesir: Syaikh Al-Azhar Takut dengan Penguasa Zalim

Wartawan Mesir: Syaikh Al-Azhar Takut dengan Penguasa Zalim
http://muslimina.blogspot.com/2014/05/wartawan-mesir-syaikh-al-azhar-takut.html


Foto: Wartawan Mesir: Syaikh Al-Azhar Takut dengan Penguasa Zalim

Penulis dan wartawan Mesir, Sami Kamaluddin, dalam wawancara dengan Aljazeera Mubasyir Misr (12/5) mengecam sikap plin-plan Syaikh Al-Azhar, Ahmad Tayyib, yang dinilai sebagai bentuk ketakutan terhadap penguasa lalim dan tidak berpihak pada kebenaran.
Kamaluddin menyatakan, sebelum Revolusi 25 Januari 2011 berhasil menumbangkan Husni Mubarak pada 11 Februari 2011, Tayyib berfatwa haram menentang penguasa dan ikut serta dalam revolusi.
Tetapi setelah perjuangan revolusi berhasil menggulingkan Mubarak, Tayyib berbalik menyatakan dirinya menentang rezim Mubarak (padahal dirinya adalah salah satu anggota biro politik partai Mubarak, NDP).
Selanjutnya, secara terang-terangan Tayyib hadir dalam pengumuman penggulingan Presiden Mursi oleh As-Sisi. Tatkala aparat kudeta menumpahkan darah dalam tragedi pembubaran aksi demo di medan Rabiah Al-Adawiyah, Tayyib ‘cuci tangan’ dan menyatakan dirinya menentang pertumpahan darah.
Sementara itu, dai terkemuka, ‘Isham Talimah, menyatakan bahwa Syaikh Al-Azhar, Ahmad Tayyib, mempermainkan fatwa dan mempolitisirnya untuk mendapatkan keridhaan penguasa, bukan untuk menegakkan kebenaran.
Talimah mengecam sikap Syaikh Al-Azhar yang diam membisu dan tidak vokal menentang aksi-aksi kekerasan aparat pendukung kudeta meskipun menimpa para mahasiswi Al-Azhar. (rassd/rem/dakwatuna)

http://muslimina.blogspot.com/2014/05/wartawan-mesir-syaikh-al-azhar-takut.html



Penulis dan wartawan Mesir, Sami Kamaluddin, dalam wawancara dengan Aljazeera Mubasyir Misr (12/5) mengecam sikap plin-plan Syaikh Al-Azhar, Ahmad Tayyib, yang dinilai sebagai bentuk ketakutan terhadap penguasa lalim dan tidak berpihak pada kebenaran.

Kamaluddin menyatakan, sebelum Revolusi 25 Januari 2011 berhasil menumbangkan Husni Mubarak pada 11 Februari 2011, Tayyib berfatwa haram menentang penguasa dan ikut serta dalam revolusi.
Tetapi setelah perjuangan revolusi berhasil menggulingkan Mubarak, Tayyib berbalik menyatakan dirinya menentang rezim Mubarak (padahal dirinya adalah salah satu anggota biro politik partai Mubarak, NDP).
Selanjutnya, secara terang-terangan Tayyib hadir dalam pengumuman penggulingan Presiden Mursi oleh As-Sisi. Tatkala aparat kudeta menumpahkan darah dalam tragedi pembubaran aksi demo di medan Rabiah Al-Adawiyah, Tayyib ‘cuci tangan’ dan menyatakan dirinya menentang pertumpahan darah.
Sementara itu, dai terkemuka, ‘Isham Talimah, menyatakan bahwa Syaikh Al-Azhar, Ahmad Tayyib, mempermainkan fatwa dan mempolitisirnya untuk mendapatkan keridhaan penguasa, bukan untuk menegakkan kebenaran.
Talimah mengecam sikap Syaikh Al-Azhar yang diam membisu dan tidak vokal menentang aksi-aksi kekerasan aparat pendukung kudeta meskipun menimpa para mahasiswi Al-Azhar. (rassd/rem/dakwatuna)