RAANYAMAN : Fenomena Meluruskan Arah Kiblat



Tak Harus Pada 28 Mei 2014 untuk meluruskan arah kiblat


Rabu 28 Mei 2014, linimasa (sebagian) pengguna media sosial dipenuhi oleh informasi tentang fenomena Matahari berada di atas Ka’bah sehingga menjadi momen yang tepat untuk melakukan kalibrasi/pengukuran ulang arah kiblat dimanapun berada sepanjang masih tersinari cahaya Matahari. Pun demikian di Indonesia.


Secara teoritis posisi Matahari saat ini adalah demikian rupa, sehingga ia akanberkedudukan tepat di atas kiblat dalam lima hari berturut-turut, mulai dari Senin 26 Mei 2014 hingga Jumat 30 Mei 2014 dan masing-masing terjadi pada pukul 16:18 WIB. Puncaknya memang pada Rabu 28 Mei 2014 pukul 16:18 WIB, saat kedudukan Matahari (nyaris) tepat di atas Ka’bah. Karena terjadi selama lima hari berturut-turut, bukan tiga hari seperti yang pernah ditulis sebelumnya, maka peristiwa ini boleh disebut sebagaiMinggu Kiblat.
kiblat_narasi-zenith_kiblatMengapa Minggu Kiblat bisa terjadi? Semua karena Matahari. Seiring miringnya sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat terhadap bidang tegaklurus ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari) sementara Bumi tetap menjalankan kewajibannya mengedari sang surya, maka kita yang tinggal di Bumi akan menyaksikan Matahari berpindah-pindah posisi dari utara ke selatan dan sebaliknya sepanjang tahun. Inilah gerak semu tahunan Matahari. Gerak semu tahunan itu membuat deklinasi Matahari berubah-ubah secara periodis dari -23,5 hingga +23,5 derajat dan sebaliknya. Di Bumi, perubahan deklinasi tersebut membuat Matahari nampak berpindah tempat di antara garis lintang 23,5 LS (yakni Garis Balik Selatan) hingga garis lintang 23,5 LU (yakni Garis Balik Utara). Gerak semu tahunan ini berpola khas, sehingga pada 21 Maret dan 23 September Matahari akan berposisi di atas garis khatulistiwa. Sementara pada 21 Juni akan berposisi di atas Garis Balik Utara dan pada 22 Desember akan menempatkan diri di atas Garis Balik Selatan.
Gambar 1. Ilustrasi gerak semu tahunan Matahari di permukaan Bumi. Garis kuning putus-putus menandakan kedua Garis Balik, sementara garis tak terputus merupakan garis khatulistiwa'. Dan garis merah tak terputus adalah garis lintang Ka'bah. Bundaran kuning mengilustrasikan Matahari, yang nampak bergerak ke utara di antara 21 Maret hingga 21 Juni dan bergerak kembali ke selatan di antara 21 Juni hingga 22 Desember. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 1. Ilustrasi gerak semu tahunan Matahari di permukaan Bumi. Garis kuning putus-putus menandakan kedua Garis Balik, sementara garis tak terputus merupakan garis khatulistiwa’. Dan garis merah tak terputus adalah garis lintang Ka’bah. Bundaran kuning mengilustrasikan Matahari, yang nampak bergerak ke utara di antara 21 Maret hingga 21 Juni dan bergerak kembali ke selatan di antara 21 Juni hingga 22 Desember. Sumber: Sudibyo, 2014.
Kawasan yang berada di antara kedua garis balik itu disebut kawasan tropis. Mari tinjau sebuah lokasi (dimanapun berada) di sini. Tentukan arah-arah mataanginnya dan akan kita dapatkan titik utara sejati (titik U) di arah utara sejati dan sebaliknya titik selatan sejati (titik S) di arah selatan sejati. Silahkan berdiri tegak dengan sikap sempurna menghadap titik U (membelakangi titik S) dengan kedua tangan direntangkan. Maka tangan kiri kita akan menunjuk titik barat sejati (titik B) dan sebaliknya tangan kanan mengarah ke titik timur sejati (titik T). Sementara jika dari kepala kita ditarik garis vertikal imajiner sampai ketinggian tak berhingga menembus langit, maka garis tersebut akan berujung di titik zenith (titik Z). Titik zenith adalah titik puncak kubah/bola langit yang memiliki tinggi (altitud) selalu 90 derajat dihitung dari arah mataangin manapun. Nah, selanjutnya tarik garis imajiner dari titik S ke atas menyusuri kubah langit hingga tepat melintas di titik Z untuk kemudian menurun kembali hingga berujung di titik U. Inilah garis meridian (bujur) langit, yang nilainya tepat sama persis dengan garis bujur lokasi tersebut.
Matahari akan selalu melintasi garis meridian langit ini setiap harinya dalam peristiwa yang dinamakan transit Matahari (istiwa’). Saat transit Matahari terjadi, praktis bayang-bayang yang dibentuk dari benda yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi dan tersinari Matahari saat itu akan tepat berimpit dengan arah utara-selatan sejati. Saat transit Matahari ini terjadi di siang hari, maka Matahari disebut sedang berkulminasi atas entah dengan tinggi (altitud) berapapun. Nah bagi kawasan tropis, terdapat momen dimana kulminasi atas Matahari terjadi dalam kondisi Matahari tepat berada di titik Z. Di Indonesia, momen ini secara tak resmi disebut sebagai hari tanpa bayangan. Sebab kala Matahari menempati titik zenith suatu lokasi, maka setiap benda apapun yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi akan kehilangan bayang-bayangnya. Peristiwa langka ini dapat terjadi pada lokasi manapun di kawasan tropis dan terjadi sebanyak dua kali (dalam waktu yang berbeda) dalam setiap tahun (Gregorian).
Gambar 2. Ilustrasi kubah/bola langit dengan arah-arah mataangin dan titik zenith. Saat Matahari berada tepat di titik zenith, tak satupun benda yang tersinarinya dibawahnya yang memiliki bayang-bayang. Sumber: Anonim.
Gambar 2. Ilustrasi kubah/bola langit dengan arah-arah mataangin dan titik zenith. Saat Matahari berada tepat di titik zenith, tak satupun benda yang tersinarinya dibawahnya yang memiliki bayang-bayang. Sumber: Anonim.
Ka’bah terletak pada garis lintang 21,4167 LU sehingga masih berada di kawasan tropis meski berdekatan dengan lintasan Garis Balik Utara. Konsekuensinya Matahari pun dapat menempati titik zenith Ka’bah, yang terjadi sebanyak dua kali dalam setahun (Gregorian). Momen tersebut selalu terjadi pada akhir Mei dan pertengahan Juli. Saat hal itu terjadi, maka Ka’bah dan wilayah sekitarnya akan mengalami situasi hari tanpa bayangan. Sebaliknya wilayah-wilayah yang berjarak jauh darinya namun masih terpapar sinar Matahari akan mengalami situasi dimana bayang-bayang benda apapun yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi akan tepat berimpit dengan arah kiblat setempat dalam tingkat ketelitian sangat tinggi. Dengan memperhitungkan konsep kiblat dan toleransinya, yang akan dipaparkan di bagian selanjutnya dari tulisan ini, maka secara konseptual bayang-bayang tersebut tepat berimpit dengan arah kiblat setempat selama lima hari berturut-turut.
Gambar 3. Ilustrasi Matahari saat menempati titik zenith Ka'bah. Tatkala Matahari dalam posisi demikian, maka seluruh bayang-bayang benda yang terpasang tegaklurus permukaan air rata-rata akan tepat mengahadp kiblat (tepat berimpit dengan arah kiblat setempat). Sumber: Arkanuddin, 2006.
Gambar 3. Ilustrasi Matahari saat menempati titik zenith Ka’bah. Tatkala Matahari dalam posisi demikian, maka seluruh bayang-bayang benda yang terpasang tegaklurus permukaan air rata-rata akan tepat mengahadp kiblat (tepat berimpit dengan arah kiblat setempat). Sumber: Arkanuddin, 2006.
Perpindahan Kiblat
Beberapa waktu lalu kita dibikin terkesan dengan aktivitas petugas maskapai nasional (flag carrier) Indonesia, yang tetap menjalankan kewajibannya menunaikan ibadah shalat meski tengah berada di dalam pesawat yang sedang mengudara. Foto dan informasinya kemudian tersebar secara viral. Bagi sebagian kita, aktivitas tersebut tidaklah aneh mengingat ibadah shalat wajib lima waktu tetap berlaku meski sedang bepergian dan berada dalam kendaraan, terlepas dari beda pendapat tentang berkiblat ke mana dan bagaimana cara menunaikannya. Berdasar pendapat sebagian ulama, saat kita sedang bepergian dan dalam kendaraan maka terdapat keringanan dalam hal tata cara ibadah shalat dan bagaimana berkiblat.
Namun masalah berkiblat dalam shalat ini menjadi berbeda tatkala kita tak sedang berkendara. Sebagian kita mungkin memegangi pendapat bahwa berkiblat itu cukup di dalam hati.Apakah berkiblat dalam shalat cukup dilakukan di dalam hati? Dalam hal ini ada peristiwa menarik yang terjadi pada 1433 tahun Hijriyyah yang lalu. Tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 2 H atau 16 bulan setelah peristiwa Hijrah, kala Rasulullah Muhammad SAW beserta sejumlah sahabat bertakziyah ke kampung Bani Salamah yang terletak di pinggiran kotasuci Madinah bagian utara. Saat telah tiba waktunya, shalat dhuhur berjamaah pun ditunaikan dengan Rasulullah SAW sebagai imam. Seluruhnya berkiblat ke arah barat laut, mengarah ke Batul Maqdis di Palestina. Namun pada saat rakaat kedua telah dilalui, turunlah perintah untuk mengubah kiblat menjadi ke Baitullah di kotasuci Makkah seperti dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 144. Dari kotasuci Madinah pada umumnya, agar bisa menghadap ke Baitullah maka harus menghadap ke arah selatan. Sehingga sisa dua rakaat berikutnya ditunaikan dengan merubah arah menjadi menghadap Baitullah, tanpa membatalkan aktivitas shalat dhuhur tersebut.
Gambar 4. Citra satelit Masjid Qiblatain di kotasuci Madinah, lokasi dimana perintah pemindahan kiblat diturunkan (surat al Baqarah ayat 144). Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sebelum pemindahan kiblat, shalat menghadap ke arah barat laut. Namun begitu kiblat dipindakan, maka shalat pun beralih arah menjadi ke arah selatan. Sumber; Sudibyo, 2012 dengan peta dari Qibla Locator.
Gambar 4. Citra satelit Masjid Qiblatain di kotasuci Madinah, lokasi dimana perintah pemindahan kiblat diturunkan (surat al Baqarah ayat 144). Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sebelum pemindahan kiblat, shalat menghadap ke arah barat laut. Namun begitu kiblat dipindakan, maka shalat pun beralih arah menjadi ke arah selatan. Sumber; Sudibyo, 2012 dengan peta dari Qibla Locator.
Perubahan ini dramatis untuk ukuran kita. Bayangkan, Muhammad SAW dan para sahabat kala bertakbiratul ihram masih menghadap ke barat laut. Namun begitu memasuki rakaat ketiga, semuanya berputar nyaris setengah lingkaran sehingga berubah arah menjadi menghadap ke selatan, ke arah Baitullah. Luar biasanya, ‘shalat yang berputar’ ini pun terulang lagi di kala ‘Ashar meski kali ini mengambil lokasi di Masjid Bani Haritsah, juga di pinggiran Madinah. Saat itu jamaah shalat ‘Ashar Masjid Bani Haritsah baru saja menyelesaikan dua rakaat pertama kala informasi perpindahan kiblat datang dan disuarakan. Begitu pula pada pagi berikutnya di Masjid Quba’, juga di pinggiran Madinah, kala jamaah baru menunaikan rakaat pertama dari shalat Shubuh dan informasi perpindahan kiblat disuarakan seseorang dengan lantang.
Perpindahan dramatis ini menjadi gambaran betapa saat berkiblat dalam shalat, tak hanya cukup di dalam hati saja namun juga harus mewujud dalam aksi (tindakan). Jika berkiblat cukup dalam hati, maka saat itu Muhammad SAW dan para sahabatnya tentu tak perlu melakukan ‘shalat yang berputar’ kala perintah pemindahan kiblat turun. Berkiblat dengan aksi juga tecermin dari pesan Muhammad SAW kepada Wabir ibn Yuhannas al-Khuza’i RA yang hendak berangkat ke Yaman. Yakni agar penduduk kota San’a berkiblat melalui cara menghadapkan wajah ke arah Gunung (Jabal) Dayn. Evaluasi dengan menggunakan perangkat visualisasi arah kiblat seperti program Google Earth maupun laman Qibla Locator memperlihatkan bahwa dengan menghadap (mengarah) ke Gunung Dayn maka penduduk kota San’a tepat menghadap kiblat.
Gambar 5. Citra satelit yang memperlihatkan kota San'a dan sekitarnya dengan Gunung (Jabal) Dayn berjarak sekitar 30 km dari kota ini (atas). Andaikata ditarik sebuah garis lurus imajiner dari suatu titik dalam kota San'a menuju Gunung Dayn, maka bila garis tersebut diperpanjang hingga sejauh 815 km dari kota San'a, ujung garis tersebut akan tepat berimpit dengan Ka'bah (bawah). Panduan arah, kiri atas = utara, kanan bawah = selatan. Sumber: Sudibyo, 2012 dengan peta dari Google Earth.
Gambar 5. Citra satelit yang memperlihatkan kota San’a dan sekitarnya dengan Gunung (Jabal) Dayn berjarak sekitar 30 km dari kota ini (atas). Andaikata ditarik sebuah garis lurus imajiner dari suatu titik dalam kota San’a menuju Gunung Dayn, maka bila garis tersebut diperpanjang hingga sejauh 815 km dari kota San’a, ujung garis tersebut akan tepat berimpit dengan Ka’bah (bawah). Panduan arah, kiri atas = utara, kanan bawah = selatan. Sumber: Sudibyo, 2012 dengan peta dari Google Earth.
Persoalan bahwa ternyata arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ ternyata tak tepat menuju Ka’bah, setidaknya pada bangunan yang tersisa pada saat ini seperti tecermin lewat Google Earth/Qibla Locator, adalah hal lain. Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok yang ma’shum dan kedua masjid bersejarah tersebut dibangun langsung lewat bimbingannya, termasuk arah kiblatnya. Maka tidak tepatnya arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ ke Ka’bah harus dipandang dalam perspektif lain, yakni sebagai tersedianya ruang yang memungkinkan untuk bertoleransi dalam arah kiblat. Toleransi ini memungkinkan kita mendapatkan arah kiblat di suatu tempat dimanapun di permukaan Bumi dalam ketelitian tinggi tanpa harus terjebak untuk seteliti mungkin (yang tidak praktis).
Dengan kata lain, kiblat dapat dikonsepkan sebagai area disekitar Ka’bah hingga ke radius maksimum tertentu yang tepat berimpit dengan proyeksi arah dari masjid Nabawi dan Quba’. Penulis menyebut kiblat semacam itu sebagai konsep toleransi arah kiblat (ihtiyaath al-qiblat). Dengan konsep semacam ini maka kiblat pada hakikatnya adalah kawasan berbentuk lingkaran dengan pusat di Ka’bah dan merentang hingga radius (jari-jari) 45 km dari Ka’bah. Dengan konsep ini maka pada hakikatnya kala Matahari berada di atas kiblat, yang berlangsung dalam lima hari berturut-turut (tentu saja dalam jam tertentu), maka Matahari bertempat tepat di atas sisi selatan kiblat pada hari pertama dan kedua, sementara di hari ketiga berlokasi nyaris/tepat di atas Ka’bah serta di hari keempat dan kelima bertempat di atas sisi utara kiblat.
Gambar 6. Citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jazirah Arabia bagian barat di sekitar kotasuci Makkah. Nampak Ka'bah menjadi pusat dari lingkaran bergaris tengah 45 km. Seluruh bagian lingkaran ini merupakan kiblat, menurut konsep ihtiyath al-qiblat dari Sudibyo (2011). Garis putus-putus memperlihatkan lintasan gerak semu Matahari yang diproyeksikan ke dalam garis-garis lintang. Terlihat bahwa pada 26 hingga 30 Mei 2014 pergerakan semu Matahari tepat melintas di kiblat. Sehingga kala Matahari berkulminasi atas di sana, yang terjadi pada pukul 16:18 WIB, pada hakikatnya Matahari sedang tepat berada di atas kiblat. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Gambar 6. Citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jazirah Arabia bagian barat di sekitar kotasuci Makkah. Nampak Ka’bah menjadi pusat dari lingkaran bergaris tengah 45 km. Seluruh bagian lingkaran ini merupakan kiblat, menurut konsep ihtiyath al-qiblat dari Sudibyo (2011). Garis putus-putus memperlihatkan lintasan gerak semu Matahari yang diproyeksikan ke dalam garis-garis lintang. Terlihat bahwa pada 26 hingga 30 Mei 2014 pergerakan semu Matahari tepat melintas di kiblat. Sehingga kala Matahari berkulminasi atas di sana, yang terjadi pada pukul 16:18 WIB, pada hakikatnya Matahari sedang tepat berada di atas kiblat. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.
Kalkulator
Kala Matahari berkedudukan di atas kiblat, maka kita cukup memasang benda apapun yang asal bisa berposisi tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi. Paling disarankan adalah bandul (lot) yang digantung dengan tali yang kuat pada statif tertentu dan distabilkan sehingga tidak bergerak sama-sekali. Juga dibutuhkan petunjuk waktu (jam) yang telah dikalibrasi dengan waktu referensi. Kalibrasi bisa dilakukan misalnya dengan men-dial (menghubungi) nomor 103 lewat telpon tertentu. Saat waktu tepat menunjukkan jam 16:18 WIB pada salah satu dari kelima hari dalam Minggu Kiblat, maka tandai bayang-bayang tali di lantai/tanah pada dua titik berbeda. Lantas tarik garis lurus melalui kedua titik tersebut. Inilah garis arah kiblat yang tepat.
Bagaimana jika pada hari-hari Minggu Kiblat itu kita justru berhadapan dengan langit berawan/mendung sehingga Matahari tidak nampak? Pengukuran arah kiblat yang akurat dengan menggunakan bayang-bayang Matahari sejatinya dapat dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Jadi tanpa harus menunggu momen Minggu Kiblat yang hanya terjadi dua kali dalam setahun. Tata cara pengukurannya pun serupa. Bedanya, pengukuran semacam ini bertumpu pada prinsip azimuth (arah) Matahari tepat berimpit dengan arah kiblat setempat. Untuk Indonesia, momen tersebut dapat terjadi di pagi hari hingga jelang siang (yakni antara bulan Oktober hingga bulan Maret tahun berikutnya) ataupun siang hingga sore hari (yakni antara bulan Maret hingga bulan Oktober di tahun yang sama). Sehingga waktu persisnya (jam dan menit) selalu berubah-ubah dari hari ke hari. Kapan hal itu terjadi? Kita bisa melakukan perhitungan terperinci untuknya. Namun bisa juga kita memanfaatkan program yang telah baku seperti spreadsheet Kalkulator Qiblat 1.2.
Gambar 7. Contoh tampilan keluaran (output) program jadwal shalat, disini menggunakan spreadsheet Jadwal Shalat Hijriyyah versi 1.4 yang belum dipublikasikan. Selain pencantuman lima waktu shalat utama, juga disertakan waktu-waktu penting lainnya seperti waktu terbit, waktu dhuha dan waktu rasydul qiblat. Waktu rasydul qiblat (kotak merah) merupakan waktu saat posisi Matahari tepat berimpitan dengan garis arah kiblat setempat, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat untuk bangunan yang dibutuhkan di sekitar tempat tersebut. Dalam contoh ini, waktu rasydul qiblat terjadi di pagi hari. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 7. Contoh tampilan keluaran (output) program jadwal shalat, disini menggunakan spreadsheet Jadwal Shalat Hijriyyah versi 1.4 yang belum dipublikasikan. Selain pencantuman lima waktu shalat utama, juga disertakan waktu-waktu penting lainnya seperti waktu terbit, waktu dhuha dan waktu rasydul qiblat. Waktu rasydul qiblat (kotak merah) merupakan waktu saat posisi Matahari tepat berimpitan dengan garis arah kiblat setempat, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat untuk bangunan yang dibutuhkan di sekitar tempat tersebut. Dalam contoh ini, waktu rasydul qiblat terjadi di pagi hari. Sumber: Sudibyo, 2014.
Mengapa fenomena Minggu Kiblat dan persoalan pengukuran arah kiblat yang akurat senantiasa diangkat dari tahun ke tahun? Sederhana saja. Pada 2010 silam masalah arah kiblat pernah menjadi kehebohan bertingkat nasional seiring besarnya persentase masjid di Indonesia yang tak tepat menghadap kiblat, berdasar pengukuran di sejumlah daerah. Kini kehebohan itu telah usai, berganti dengan hiruk-pikuk pemilu. Namun masalahnya sejatinya belum terselesaikan dengan sesungguhnya. Dalam catatan Kementerian Agama RI, terdapat sekitar 700.000 buah masjid yang terdaftar di Indonesia. Jika 60 hingga 80 % diantaranya tidak tepat menghadap kiblat, maka terdapat lebih dari 420.000 hingga lebih dari 560.000 buah masjid Indonesia yang tak tepat menghadap kiblat.

Itu baru berdasarkan jumlah masjid yang terdaftar. Yang terdaftar masih banyak dan memiliki problem yang sama. Belum lagi jika kita memperhitungkan musala, baik musala publik (untuk kepentingan umum) maupun musala pribadi (untuk kepentingan keluarga di kediaman masing-masing). Di sisi lain, satu-satunya cara untuk mengurangi proporsi tersebut adalah dengan melakukan pengukuran arah kiblat di masing-masing masjid/musala sekaligus menera garis shaff (garis tegak lurus garis arah kiblat setempat) guna mengompensasinya.
Catatan :
Penjelasan Kalkulator Qiblat 1.2 dapat dilihat di sini .Program ini belum sepenuhnya sempurna sehingga mungkin menjumpai masalah tertentu bila dijalankan pada komputer meja/jinjing (laptop) tertentu ataupun dijalankan pada sistem operasi non-Windows.

sumber : https://ekliptika.wordpress.com/